Posts

Perlukah Kekerasan dalam Mendidik?

Kekerasan tidak akan terjadi bila guru bisa begitu mendalami karakteristik siswa. Guru bisa mengembangkan kemampuan siswa dengan metode dan pendekatan yang tepat. Pendekatan konstruktivistik menjadi jawaban dari psikologi behavioristik yang biasa diterapkan dalam mendidik. Siswa mempunyai karakteristik individual yang berbeda antara satu dan lainnya. Apabila seorang guru mampu menangani masalah siswa dengan metode A, maka belum tentu metode A tersebut efektif menangani siswa lain dengan masalah yang berbeda. Kadang guru menggeneralisir bahwa metode yang sama masih cukup efektif untuk diterapkan dalam mendidik semua karakter siswa. Hal ini memang tidak sepenuhnya disalahkan karena model pembelajaran klasikal dimana guru harus menangani satu kelas besar berjumlah lebih dari 36 siswa memang cukup kerepotan, tetapi bukan berarti jalan kekerasan menjadi metode pamungkas agar siswa memperhatikan apa yang dijelaskan guru. Profesionalitas guru merupakan paduan antara kemampuan personal, kei...

SMK dan Data Pengangguran

Perlu didiskusikan lebih lanjut perolehan data statistik dari BPS yang menghasilkan bahwa pengangguran lulusan SMK lebih banyak yakni 16,94% dibanding lulusan lainnya (Surya, 8 Januari 2009). Disatu sisi temuan ini begitu mengejutkan, karena dunia pendidikan saat ini, melalui Mendiknas memiliki kebijakan untuk membalik perbandingan jumlah SMK daripada jumlah SMA yang sebelumnya SMK:SMA = 30:70 menjadi SMK:SMA = 70:30 sampai tahun 2013. Di sisi lain kenyataan data di lapangan ternyata lulusan SMK tidak lebih baik daripada lulusan SMA dalam memperoleh pekerjaan, padahal perbandingan SMK:SMA masih mencapai 50:50. Kebijakan memperbanyak SMK ini diawali dari data BPS juga dimana beberapa tahun yang lalu lulusan SMA menyumbang pengangguran terbesar yakni 18% ditahun 1995 dan meningkat terus sampai 24% ditahun 2004. Analisis tentang banyaknya lulusan SMA yang menganggur saat itu memang dapat diterima, karena kurikulum SMA memang menyiapkan siswa untuk untuk melanjutkan kejenjang pendidikan y...

Spiderman Tidak Bisa Terbang Tanpa Bangunan

Image
Masih ingat kan tentang perjuangan seorang pemuda yatim piatu Peter Parker dalam aksinya sebagai Spiderman?. Selain alur cerita yang mengesankan, film spiderman membuat kita terkagum-kagum ketika dia terbang diantara bangunan pencakar langit di Kota New York. Pernah nggak kita membayangkan Spiderman tiba-tiba datang ke Malang kemudian terbengong-bengong nggak bisa terbang karena bangunan yang tertinggi di Malang paling-paling cuma BCA Kayu Tangan. Kalau si Spiderman pergi ke MOG atau Matos yang konon plasa terhebat di Kota Malang, ternyata kedua bangunan itu belum bisa dikatakan pencakar langit. Sehingga bukan hanya tidak bisa terbang, sekedar nyanthol di pohonpun dia nggak bisa, dan tidak akan terlihat hebat. Latar belakang bangunan pencakar langit membuat film Spiderman lebih heroic. Hal ini menunjukkan bahwa bangunan memang bisa membawa pada sebuah situasi tertentu. Bangunan bisa membawa seseorang nampak bewibawa, anggun, mewah, hebat atau sebaliknya sederhana atau bahkan kumuh....